Web Designer Dan Bangga Karenanya
Apakah kamu mendengar tentang anak 16 tahun yang mendesain web dan menghasilkan lebih dari $6000 dalam sebulan!?!
Hal terberat menjadi seorang web designer profesional adalah memberitahu orang-orang apa pekerjaan saya. Berbagai komentar yang saya dapat mulai dari penilaian bahwa web hanyalah sebuah fad (tren sesaat), hingga ada komentar seperti ini, “Anakku kelas 5 SD sudah punya situsnya sendiri”. Alasan terutama bahwa titel pekerjaan seperti Desainer GUI Web atau Web Creative dianggap remeh dalam lingkup profesional dan media adalah karena dalam sosialita sekarang, istilah desainer web memberimu rasa hormat kira-kira sama dengan bagi seorang loper koran.
Siapa yang harus Disalahkan?
Bukanlah kesalahan dari desainer web sekarang jika siapapun dengan kemampuan memakai internet dapat dengan mudah mengaku bisa menjalani profesi tersebut. Adalah kesalahan dari desainer saat ini bahwa orang-orang tidak mengetahui perbedaan antara seorang profesional, dengan anak 16 tahun yang gemar mempromosikan diri sendiri. Perbedaan itu adalah kemampuan desain, pengetahuan Internet, pengalaman dan komitmen profesional pada bidang ini.
HTML adalah bahasa yang mudah dipahami, dan tidak butuh banyak keahlian untuk pergi ke toko dan membeli satu dari banyak paket software web editing WYSIWYG. Namun web desain lebih dari sekedar mengkode satu halaman yang akan tampil di browser. Batasan yang diberikan pada desainer web membuat pembangunan sebuah halaman menjadi sebuah permainan kompromi dan trik untuk menipu browser. Kita telah memakai fitur TABLE dari HTML sebagai semacam Postscript on-line, mendefinisikan sel untuk menyimpan data atau gambar kita sebagaimana kita memakai jalur (”path”) dan text box untuk mendesain halaman. Namun bersamaan dengan tiap trik baru, dengan tiap perkembangan baru, sifat dari Internet itu sendiri menyalurkan ide kita kepada siapapun di luar sana yang mengaku dirinya “desainer web”.
Sebagai profesional kita dihadapkan pada situasi yang sama yang diberikan oleh revolusi Desktop Publishing kepada desain grafis di akhir era 80an. Setiap perusahaan software menyatakan bahwa produk mereka akan membuat situsmu sebaik buatan desainer profesional. Sekolah lokal menawarkan kelas desain yang diajarkan oleh guru ilmu komputer yang memfokuskan pada penulisan HTML dan tidak pada tujuan memberikan desain yang efektif. Buku-buku tersedia di toko-toko dengan judul seperti The Idiot’s Guide to Web Design dan Web Page Design for Dummies. Profesi kita terancam oleh semua ini.
Jadi apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, kita harus memperluas jarak antara mereka yang sekedar mengaku sebagai desainer web dengan profesional sesungguhnya. Profesional tidak “membuat” desain web, kita mempraktekkannya. Web desain bukanlah tanda jasa yang bisa dipasang pada seragam pramuka (namun dari yang terjadi sekarang, hal itu tidak terlalu jauh berbeda), ini adalah sebuah pilihan karir yang menuntut perkembangan terus menerus dan dedikasi yang serius. Kita terus bekerja mengembangkan kemampuan dan teknik kita, mempelajari bagaimana memakai alat baru dan menguasai yang lama. Untuk menaikkan profesi kita dari persepsi yang ia dapat sekarang menuju tingkat yang layak ia perolah, perbedaan antara profesional dan amatir haruslah jelas bagi para penonton biasa.
Kedua, sebagai profesional kita harus memahami bahwa alasan pengunjung untuk meng-klik sebuah tombol sama pentingnya dengan penampilan tombol itu pada browser yang berbeda. Kita harus dapat melihat pada informasi yang dimasukkan ke dalam website dan mengorganisasikannya dalam format yang mudah dipahami. Separuh psikolog dan separuh editor majalah, seorang desainer web harus menjadi bentuk digital dari seorang manusia Renaissance. Sama seperti seorang pesulap yang dapat membuat kartu ratu hati terambil dari setumpuk kartu, kita harus dapat membawa pengunjung satu website menuju informasi yang akan menjawab pertanyaan mereka.
Ketiga, kita harus dapat menentukan tujuan situs yang kita buat. Bekerja dengan klien untuk membangun strategi Internet mereka sama pentingnya bagi kesuksesan website tersebut, dengan bagaimana penampilannya. Perusahaan yang sekedar menginginkan sebuah website on-line akan melewatkan pengaruh komunikasi yang dimiliki oleh website yang efektif. Sebagai web desainer profesional kita harus dapat bekerja dengan satu perusahaan untuk menggarisbawahi apa yang ingin mereka dapat dari website mereka, dan apa yang diperlukan untuk memperolehnya. Kemudian kita memakai informasi ini untuk membangun situs yang akan memenuhi kebutuhan klien.
Keempat, pemahaman mengenai pemasaran dan Public Relation harus menjadi bagian dari resume setiap web desainer profesional. Kita harus mengetahui bagaimana memakai pola ekonomi berdasar-hadiah (gift-based) dari Internet untuk mendapat peningkatan pelanggan bagi klien. Profesional tidak boleh mengalami kesulitan membuat banner kampanye yang efektif, atau menulis meta-tag yang dapat mempromosikan situs. Sebagai profesional kita akan membutuhkan latar belakang semacam ini untuk bersaing dengan desainer web “sepulang sekolah” yang mendatangi bisnis kita.
Kelima, web desainer profesional harus merasa bangga dengan profesi kita. Sudah waktunya kita menggenggam titel kita, mengambilnya kembali dari anak-anak 16-tahun. Lain kali ketika kamu kehabisan kartu bisnis, banggalah dengan profesimu dan gunakan titel, Desainer Web. Bergabunglah dengan desainer web lain di daerahmu dan buat sebuah grup profesional. Berhenti bersembunyi di balik titel yang dibuat-buat; dengan melakukannya kamu hanya akan menambah persepsi bahwa web desain adalah pekerjaan yang tepat untuk para idiot dan bodoh.
Tidak akan mudah untuk merehabilitasi imej dari web desainer profesional, namun kita semua akan memperjuangkannya. Masa depan profesi kita ditentukan oleh perbuatan kita di masa sekarang. Jadi, ketika lain kali seseorang mengatakan bahwa anak kelas 5 SD mereka memiliki websitenya sendiri, balaslah dengan mengatakan bahwa dia harus terus berusaha, dan setelah lulus sekolah bisa jadi ia akan dapat menjadi desainer web profesional, sama sepertimu.
Tentang Penulis
Chris MacGregor
Bekerja menghapus dosanya di purgatory sebagai desainer web. Dia diwakili oleh Aquent di Houston, di mana melaluinya ia bekerja freelance untuk perusahaan di industri energi yang bernilai milyaran dollar. Selain bekerja, Chris juga mempublikasikan Flazoom.com, situs kritik Flash yang terkenal dan dia telah menulis sejumlah artikel mengenai Flash dan Usability (kepenggunaan?). Ketika ingin lari dari itu semua, Chris menjadi pembicara konferensi dan pertemuan mengenai web dan usability.



Panggilan Untuk Semua Designer : Belajarlah Menulis! | Om Ipit | Web Designer | Blogger Cepu
18 June 09 - Link
[...] Web Designer dan Bangga Karenanya [...]
20 June 09 - Link
menurut saya menjadi web designer itu berat. apalagi bisa membuat desain web yg match dengan keinginan klien.
Saya sendiri belum bisa bikin sendiri, dan hanya mengambil dari thme design yg ada dan gratis tentunya :). Hanya saja sekian theme gratis itu masih saja ada yg bikin saya gak sreg.
eniwe, bangga dengan pekerjaan dan bisa menghasilkan dengan halal itu udah cukup. Gak perlu peduli dengan apa kata ortang disekitar. Toh profesi ini cuman ada di internet, jadi berkumpullah di internet..hehe
21 June 09 - Link
bener bgt bang, theme2 tsb kdu di modif dlu biar kliatan keren.
banyak sekali aturan2 yg hrs dipahami web designer dan itu yg membedakan antara profesional dan amatir.
tp klo saya sih ikut aturan yg standart sja
btw, trims udh mampir.
10 Alasan Mengapa Menjadi Freelancer Itu Keren | Om Ipit | Web Designer | Blogger Cepu
27 June 09 - Link
[...] Web Designer dan Bangga Karenanya [...]
10 August 09 - Link
Menarik banget artikel anda ini, saya juga bergerak dibidang web development, tapi saya masih ogah disebut web desainer…web desainer sangat luas dan melingkupi banyak bidang pekerjaan
seperti web programer, web maker, konseptor, graphic design, marketing dll
Trend sesaat muncul karena adanya kemudahan dalam membangun website, bahkan sering blog, friendster, facebook, twitter dll dianggap sebagai website pribadi, sehingga banyak orang memberi alamat webnya ke saya dia bilang begini: “kalo mau liat barang lengkapnya silahkan ke website saya alamatnya okebos.blogspot.com”
Namun saya bangga dapat mengolah sumber web gratisan menjadi website utuh dengan konsep yang tidak standar aja, bagi saya proses menemukan cara membangun website bukan proses membangun website.
Salam…
20 August 09 - Link
@bany gunawan
menginspirasi sekali bang. bahkan untuk membuat web aplikasi pun sekarang bisa dilakukan tanpa harus mempunyai kemampuan coding yang mumpuni. bisa di baca di artikel ini :
http://www.sitepoint.com/blogs/2009/07/08/10-web-apps-to-build-the-next-big-thing-without-writing-any-code/
Seorang Peri, Roti Bagel Rendah-Lemak, dan Sekantong Palu :: Om Ipit
29 August 09 - Link
[...] Web Designer Dan Bangga Karenanya [...]
09 September 09 - Link
Artikel yang sangat bagus.Ttapi menurut saya,tidak harus web designer yang ingin dikatakan profesional harus mengikuti langkah2x diatas! Menurut saya yang terpenting bila ingin dikatakan sebagai web designer sejati harus dapat melakukan hal2x berikut dalam mendesign sebuah website yang profesional:
Ini persepsi singkat saya aja kok selanjutnya terserah Anda
1. Dapat berkonsultasi dengan client sebagai acuan untuk menemukan ide yg cocok dengan image/produk perusahaan/pribadi.
2. Ide/konsep harus orisinil/baru dan menuangkannya dalam bentuk sketsa.
3. Dapat mengubah sketsa kedalam bentuk wireframes atau photoshop mock up Disinilah estetika design dan creativitas seotang web design dihasilkan.
4. Melakukan slice yang tepat dan efesien
5. Malakukan koding XHTML/CSS sesuai standart design web terkini dan dapat kompatibel dgn seluruh browser.
6. Mampu menentukan/menambahkan Snippet yg tepat/cocok sesuai konsep
7. Mengoptimalkan coding2x yg tlah buat.
8. Selalu mengembangkan keahlian agar dpat membuat design yang lebih imaginatif,unik,kreatif,kominikatif dll. tidak harus semuanya dlm satu design pilih aja satu/dua. Ingat tidak ada yang sempurna tpi teruslah berkeinginan menghasil desain web yang terbaik.
Selebihx tugas web programer,web master, marketing dll
Jika kita tlah dapat melakukan itu semua pastinya tdak akan ada yg keberatan bila menyebut diri Anda sebagai seorang web designer profesinal
19 October 09 - Link
@Yustian
makasih share n opininya mas. item nomor 8 menginspirasi saya.