Manusia Adalah Kemerdekaan
Manusia adalah kemerdekaan. Dialah yang memilih kemungkinan mana yang akan diambil, dialah yang mempertimbangkan kemungkinan mana yang lebih baik dan seterusnya. Ini berarti kalau kemudian ternyata baik, maka dia akan merasa betapa manisnya kemerdekaan yang dia miliki. Tapi ini juga berarti, kalau pilihannya salah, dia dan hanya dia seorang yang harus bertanggung jawab, sendirian.
Adanya kemungkinan kedua ini membuat orang menjadi ragu untuk memiliki kemerdekaan. Tidaklah lebih baik, bila oang lain yang memilihkan untuk kita. Kalau pilihan itu salah, maka :
- Kita tidak terganggu oleh perasaan bahwa itu adalah tanggung jawab kita.
- Karena kita mengikuti pilihan orang lain, maka kita bukanlah satu – satunya yang melakukan kesalahan itu.
Tidaklah lebih baik, kalau kita mengikuti orang lain saja, dalam pilihan – pilihan yang datang setiap saat di dalam hidup ini. Adanya kenyataan ini membuat seorang Kiergaard berkata :
“Setiap saat, manusia ada dalam keadaan harus memilih, atau tetap mempertahankan kemerdekaannya atau menjadi budak.”
Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia memilih untuk menjadi budak.Dalam kehidupan sehari – hari, dapat kita lihat, kebanyakan manusia takut untuk hidup sebagai dirinya. Dia hidup mengikuti cara – cara hidup yang sudah ditentukan oleh masyarakat di sekelilingnya. Masyarakat sudah mengatur apa yang boleh dilakukan, dan apa yang dia tidak boleh lakukan. Kita tersenyum kepada tetangga kita tanpa ada dorongan dalam diri kita untuk melakukan hal itu, bahkan barangkali kita tidak menyukai si tetangga. Semua itu hanya untuk sekedar sopan santun yang telah ditetapkan masyarakat. Kata Heidegger :
“Kita gembira dan menjadi bahagia seperti juga mereka ; kita membaca dan menilai kesusasteraan seperti cara mereka membaca dan menilai ; kita menjadi terkejut tentang hal – hal yang mereka anggap mengejutkan. Mereka, yang dalam kenyataannya kita tidak tahu siapa, adalah salah satu bentuk dari cara berkesistensi kita.”
Ini adalah cara bereksistensi dari kebanyakan orang , yang oleh Heidegger disebut dengan istilah Das Man. Hidupnya hanyalah mengikuti “seperti yang dilakukan oleh semua orang” dan kalau kita tanyakan kepada tiap orang yang ada, ternyata tiap orang ini mengikuti si “semua orang”. Sehingga “semua orang” ini sama dengan “tidak seorangpun”. Dia hanyalah alasan untuk membenarkan cara bereksistensi kita yang menolak kemerdekaan.
Bunuh diri yang dilakukan manusia adalah dengan cara membekukan kemerdekaannya, membiarkan orang lain memilihkan kemungkinan – kemungkinan yang seharusnya dia pilih sendiri, membiarkan dirinya dibentuk oleh orang lain. Sampai pada akhirnya kematian merenggutnya, dan pada saat ini dia sadar bahwa hidupnya adalah milik pribadinya. Karena kematian tidak akan pernah bisa dicampuri oleh orang lain.
Referensi : Chairil Anwar - Sebuah Pertemuan | Arief Budiman


